Wednesday, November 14, 2012


Sifat – Sifat Tercela

Down Arrow Callout: Oleh :
 












Aryanti Ayu A.           (04)
Aulia Fitriana            (06)
Dian Dwi P.               (10)
Elsa Purnama S.         (17)

Kelas 8I
SMP 20 Malang
Jl. R. Tumenggung Suryo 38 Malamg
Telp. (0341) 476082

Kata Pengantar

Alhamdulilah, puji syukur  kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmatnya, kami dapat menyelesaikan makalah Agama yang berjudul Sifat – Sifat Tercela.
Makalah ini dimaksudkan agar pembaca dapat memahami materi agama islam mengenai sifat-sifat tercela. Sehingga senantiasa dapat menghindarinya dan selalu menerapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu manfaat dari mempelajari materi ini diharapkan menambah iman dan taqwa pada Allah S.W.T dan rasulnya Muhammad S.A.W.
Perlu diketahui, disini akan dijelaskan mengenai macam-macam sifat-sifat tercela seperti Ananiah, Gadab, Hasad, Gibah,dan Namimah.
Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan khususnya kami pribadi agar menjadi manusia yang baik.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan yang kami sengaja maupun tidak dalam pembuatan makalah ini.


Malang, 25 September 2011



Penyusun








I S I
 





Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Islam sangat menutamakan dan menghargai eksistensi manusia. Oleh karena itu, Allah sangat murka apabila manusia bersikap menghancurkan manusia lain tanpa dasar aturan Nya. Perilaku tercela seperti merampok, membunuh, asusila, dan pelanggaran hak asasi manusia merupakan tindakan yang melecehkan eksistensi manusia yang sesungguhnya telah dimuliakan oleh Allah. Nah, untuk mengenali hal tersebut sehingga kita mampu membentengi diri, marilah kita bersama-sama menganalisisnya dalam pembahasan kali ini.
Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.  
Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.
1.    Perbuatan yang baik atau buruk.
2.    Kemampuan melakukan perbuatan.
3.    Kesadaran akan perbuatan itu
4.    Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk
Akhlak bersumber pada agama. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan peragai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya.
Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.  Tolong-menolong merupakan salah satu akhlak baik terhadap sesama.

Akhlak tercela (Akhlakul mazmumah), yaitu segala tingkah laku yang tercela atau akhlak yang jahat, dan hal tersebut sangat di benci oleh Allah SWT.

Pada hakikatnya,  bila kita tidak ingin dicela, maka kita jangan mencela orang lain. Mereka yang tersesat mengikuti ajakan hawa nafsunya dan terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan tercela berarti telah terjangkit penyakit hati.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Hati dinamakan qalbu karena selalu bolak-balik, perumpamaan hat itu bagaikan bulu yang tergantung di bawah pohon yang selalu dibolak-balik angin dari atas dan bawah saling bergantian.”

Beberapa sifat tercela antara lain: hasud, dengki, iri, suka membicaran aib orang, mengumpat, dusta, dan lain lain.

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:“Bukankah aku telah memberitahu kamu tentang ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, suka mengumpul harta tetapi tidak suka membelanjakannya untuk kebaikan”.

1.    Keras kepala (degil) adalah sifat orang yang tidak mahu menerima kebenaran. Begitu juga orang yang tamak pada harta dan tidak suka membelanjakan harta untuk kebaikan kerana sombong, mereka ini tergolong sebagai ahli neraka.
2.     Harta merupakan amanah Allah kepada menusia oleh itu ia hendaklah dibelanjakan untuk diri, keluarga dan orang-orang yang di bawah tanggungan serta memberi bantuan kepada orang yang memerlukannya dengan cara yang diredhai oleh Allah.
3.    Islam amat melarang umatnya bersifat dengan sifat-sifat yang tercela, seperti sombong, takbur, riak, keras kepala, suka tamak dan sebagainya kerana semua sifat-sifat ini boleh menyeret seseorang itu ke dalam neraka.

Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru", "Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?".
 Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa keutamaan kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/ Hal. 140)

Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
 
 









Dalam bergaul di tengah-tengah masyarakat, kita tidak boleh memiliki sifat ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah. Semua sifat itu akan merugikan diri kita sendiri.

Nah, mari kita pelajari pengertian serta bahaya ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah berikut ini........................
 






ANANIAH

Kata ananiah berasal dari bahasa Arab ana yang berarti saya atau aku, kemudian mendapat tambahan kata iyah. Ananiah berarti ’keakuan’. Sifat ananiah biasa disebut egois, yaitu sikap hidup yang terlalu mementingkan diri sendiri bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Egois merupakan sifat tercela yang dibenci oleh Allah swt. dan manusia karena cenderung berbuat sesuatu yang dapat merusak tatanan pergaulan kehidupan bermasyarakat. Orang yang egois biasanya membangga-banggakan diri sendiri, mengganggap orang lain hina dan rendah. Padahal Allah swt. dengan tegas tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Firman Allah swt :

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An Nisa : 36 )

Contoh Ananiah; suka membanggakan diri sendiri, merasa diri paling benar, menganggap orang lain salah.

Menghindari Prilaku Ananiah
Untuk dapat menghindari perilaku ananiah bukanlah suatu hal yang mudah karena setiap manusia pasti memiliki sikap egoistis.
Hal-hal yang harus dilakukan agar terhindar dari perilaku ananiah sebagai berikut :
a.     Menyadari bahwa perbuatan ananiah dapat merugikan diri sendiri ataupun
orang lain.
b.    Menyadari bahwa perilaku ananiah apabila dibiarkan akan mengarah pada
sikap takabur yang dibenci Allah swt
c.     Menghindari bahwa manusia diciptakan sama dan mempunyai hak yang
sama.
d. Membiasakan diri untuk bersedekah dan beramal saleh
e. Menekan hawa nafsu dan memupuk sikap tenggang rasa.

Akibat buruk dari sifat ananiah atau egois antara lain :
a.     jauh dari pertolongan dan rahmat Allah, sebab orang yang egois tidak suka
menolong orang lain.
b.Menumbuh suburkan sifat rakus, tamak, dan sombong.
c.Menimbulkan kebencian dan permusuhan , sehingga merugikan diri sendiri.



GADAB

Gadab (marah) secara bahasa artinya keras, kasar, dan padat. Orang yang marah (pemarah) disebut gadib. Gadab merupakan antonim (lawan kata) dari rida dan hilm (murah hati) . Secara istilah, gadab berarti sikap seseorang yang mudah marah karena tidak senang terhadap perlakuan atau perbuatan orang lain.
 Amarah selalu mendorong manusia bertingkah laku buruk atau jahat. Seorang pemarah tergolong lemah imannya karena berpandangan picik dan tidak
dapat mengendalikan hawa nafsunya. Sebaliknya, jika seorang berpandangan luas dan dapatmengendalikan hawa nafsunya, maka ia akan bersikap arif atau bijaksana dalam menyelesaikan setiap masalah.
Orang mukmin yang baik selalu bersedia memaafkan kesalahan saudaranya, baik yang diminta ataupun tidak,karena hanya mengharapkan keridaan Allah SWT.



Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Contoh Ghadab; marah tanpa sebab, mudah tersinggung, tidak bisa mengendalikan diri.

Menghindari Perilaku Gadab
Adapun untuk menghindari perilaku gadab diantaranya:
a. Senantiasa membaca istigfar sambil menarik napas panjang.
b. Meninggalkan factor-faktor yang menyebabkan timbulnya marah.
c. Menyadari bahwa perilaku amarah sangat dibenci Allah swt. dan manusia
d. Berusaha belajar, lapang dada, dan mudah memaafkan orang lain.

 Akibat buruk sifat ghadab atau pemarah antara lain :
a. Dibenci Allah, Rasul-Nya, dan manusia.
b. Dapat merusak iman seseorang.
c. Menimbulkan dendam dan sakit hati.
d..Menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan, sehingga merusak
    persahabatan dan persaudaraan.

Rasulullah Saw bersabda :
Sesungguhnya murka dan marah itu dapat merusak iman sebagaimana juga dapat
merusak madu;
Cukuplah terhinanya murka dan marah sebagai pelajaran bagimu, yaitu engkau berfikir dan merenung tentang perbuatan seseorang di saat ia murka dan marah.
 HASAD

Hasad (dengki) secara bahasa berarti menaruh perasaan benci, tidak suka karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Secara istilah ialah usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain supaya tidak senang terhadap orang yang memperoleh keberuntungan atau karunia dari Allah swt.
Hasad biasanya timbul karena adanya permusuhan dan atau persaingan untuk saling menjatuhkan. Hasad merupakan penyakit rohani yang sangat berbahaya, karena harus dijauhi. Apabila dibiarkan ,akan dapat merusak dan menghilangkan
semua amal kebaikan seseorang.
Rasulullah saw. bersabda :
Artinya : “jauhkanlah dirimu dari sifat hasad karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan , ibarat api yang membakar kayu.” (HR. Abu Daud )
Contoh Hasad; mencemarkan nama baik orang lain, menjelek-jelekan orang lain karena iri, dan suka memusuhi orang lain.

Cara menghindari perilaku hasad antara lain :
a. Berusaha untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah swt.
b. Menyadari bahwa perilaku hasad sangat berbahaya dan harus dijauhi
c. Menyadari bahwa perilaku hasad dapat menghapus segala kebaikan yang
    dilakukan

Apabila masih suka menghasad.
d. Berpikir positif atas segala kejadian yang menimpa kita.
e. Tetap percaya diri dan optimis dengan kekurangan yang kita miliki.

Di dalam Al-Quran dikisahkan:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurutyangsebenarnya, ketika keduanya memper-sembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
Qabil berkata : “Aku pasti membunuhmu!”
Berkata Habi l: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang             
yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
GIBAH

Secara bahasa, gibah (menggunjing) ialah membicarakan keburukan (keaiban) orang lain. Secara istilah berarti membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya, baik jasmani, agama, kekayaan, akhlaq ataupun bentuk lahiriyahnya.
Gibah tidak terbatas melalui lisan saja, namun bias terjadi dengan tulisan atau gerakan tubuh. Apabila hal ini berhubungan dengan agama seseorang ia akan mengatakan bahwa ia pembohong, fasik ,munafik dan lain-lain.

 

Allah swt melarang keras perilaku gibah tersebut dan menyeru untuk menjauhinya, karena gibah digambarkan dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikan .

 

firman Allah swt:


Artinya : “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya..”( QS. Al Hujurat : 12 )
Contoh Gibah; mengumpat dan suka membeberkan kesalahan orang lain

Cara menghindari dari perilaku tercela antara lain :
a.     Selalu mengingat bahwa perbuatan gibah ialah penyebab kemarahan dan
 kemurkaan Allah swt.
b.    Selalu mengingat bahwasanya timbangan kebaikan gibah akan pindah
kepada orang yang digunjingkannya.
c.     Hendaknya orang yang melakukan gibah mengingat terlebih dahulu aib
dirinya sendiri dan segera berusaha memperbaikinya.
d. Menjauhi faktor-faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gibah
e. Senantiasa mengingatkan orang-orang yang melakukan gibah

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya. "Artinya : Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (HR Ahmad) "Wahyu Pamungkas"-Dibawah Naungan Al-Quran.
NAMIMAH

Secara bahasa, namimah berarti mengadu domba. Secara istilah, namimah berarti mengadu domba atau menyabar fitnah antara seseorang dengan orang lain dengan tujuan agar saling bermusuhan. Namimah termasuk perbuatan tercela yang harus kita hindari dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana larangan Allah swt. dalam Al Qur’an :

Artinya : ‘ Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi gina, yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang aku kasar selain dari itu yang terkenal kejahatannya.: (QS> Al Qalam 10 – 14 )
Contoh Namimah; bermuka dua, suka mengadu domba orang lain.
Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11)
Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari)
Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed).
Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.
Oleh: Syaikh Abbas al-Qummi Saudaraku, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak marah dan murka. Ukirlah jiwa dan dirimu dengan hiasan kesabaran dan ketabahan. Ketahuilah sesungguhnya marah dan murka itu merupakan kunci segala keburukan dan bisa jadi bahwa puncak kemarahan itu akan mengakibatkan kepada kematian secara tiba-tiba


Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah,)


Ada pula prilaku hasad yang dibolehkan, karena berdampak positif, yang dalam istilah lainnya disebut dengan al-ghibtah.

Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu (hasad kepada) orang-orang yang diberi kemampuan (membaca) al-Quran oleh Allah, lalu dia menegakkan (melaksanakan membaca) al-Quran baik diwaktu siang ataupun malam dan (hasad kepada) orang-orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia infakkan baik diwaktu malam ataupun diwaktu siang“. (HR Muslim).

Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.
Kesimpulan & Hikmah

Ø  Kesimpulan :
·   Perilaku tercela adalah Ananiah, Ghibah, Gadab, Hasad, dan Namimah.
·   Ananiah adalah sifat yang menilai sesuatu berdasarkan dirinya sendiri sehingga tidak memedulikan kepentingan orang lain. Ananiah sering disebut egois.
·    Gadab merupaka sifat tercela yang berarti marah. Marah adalah perasaan sangat tidak senang.
·    Hasad berarti menaruh perasaan marah atau benci karena iri terhadap keberuntungan orang lain. Hasad juga sering disebur iri hati atau dengki.
·     Gibah adalah membicarakan seseorang yang tdak ada kenyataanya dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya serta menjeek-jelekannya.
·    Namimah sering diartikan fitnah. Fitnah adalah perkataan buhong atau tanpa dasar dengan maksud menjelekkan orang-orang lain. 

Ø   Hikmah :
·        Kita dapat menghindari sifat-sifat tercela dalam kehidupan. Karena sadar  itu semua dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
·        Bergaul di tengah masyarakat dengan saling sayang-menyayangi.
·        Hidup bahagia tenang dan damai  karena tidak ada rasa benci dan resah
terhadap siapapun.
·       Senantiasa sabar walaupun ada berbagai masalah.
·        Terbebaskan dari permusuhan dan pertengkaran terhadap sesama.
·        Berusaha mengoreksi kesalahan sendiri.
·        Selalu mengingat Allah sehingga Menambah iman dan taqwa pada AllahSifat – Sifat Tercela

Down Arrow Callout: Oleh :
 












Aryanti Ayu A.           (04)
Aulia Fitriana            (06)
Dian Dwi P.               (10)
Elsa Purnama S.         (17)

Kelas 8I
SMP 20 Malang
Jl. R. Tumenggung Suryo 38 Malamg
Telp. (0341) 476082
Kata Pengantar

Alhamdulilah, puji syukur  kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmatnya, kami dapat menyelesaikan makalah Agama yang berjudul Sifat – Sifat Tercela.
Makalah ini dimaksudkan agar pembaca dapat memahami materi agama islam mengenai sifat-sifat tercela. Sehingga senantiasa dapat menghindarinya dan selalu menerapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu manfaat dari mempelajari materi ini diharapkan menambah iman dan taqwa pada Allah S.W.T dan rasulnya Muhammad S.A.W.
Perlu diketahui, disini akan dijelaskan mengenai macam-macam sifat-sifat tercela seperti Ananiah, Gadab, Hasad, Gibah,dan Namimah.
Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan khususnya kami pribadi agar menjadi manusia yang baik.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan yang kami sengaja maupun tidak dalam pembuatan makalah ini.


Malang, 25 September 2011



Penyusun








I S I
 





Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Islam sangat menutamakan dan menghargai eksistensi manusia. Oleh karena itu, Allah sangat murka apabila manusia bersikap menghancurkan manusia lain tanpa dasar aturan Nya. Perilaku tercela seperti merampok, membunuh, asusila, dan pelanggaran hak asasi manusia merupakan tindakan yang melecehkan eksistensi manusia yang sesungguhnya telah dimuliakan oleh Allah. Nah, untuk mengenali hal tersebut sehingga kita mampu membentengi diri, marilah kita bersama-sama menganalisisnya dalam pembahasan kali ini.
Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.  
Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.
1.    Perbuatan yang baik atau buruk.
2.    Kemampuan melakukan perbuatan.
3.    Kesadaran akan perbuatan itu
4.    Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk
Akhlak bersumber pada agama. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan peragai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya.
Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.  Tolong-menolong merupakan salah satu akhlak baik terhadap sesama.

Akhlak tercela (Akhlakul mazmumah), yaitu segala tingkah laku yang tercela atau akhlak yang jahat, dan hal tersebut sangat di benci oleh Allah SWT.

Pada hakikatnya,  bila kita tidak ingin dicela, maka kita jangan mencela orang lain. Mereka yang tersesat mengikuti ajakan hawa nafsunya dan terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan tercela berarti telah terjangkit penyakit hati.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Hati dinamakan qalbu karena selalu bolak-balik, perumpamaan hat itu bagaikan bulu yang tergantung di bawah pohon yang selalu dibolak-balik angin dari atas dan bawah saling bergantian.”

Beberapa sifat tercela antara lain: hasud, dengki, iri, suka membicaran aib orang, mengumpat, dusta, dan lain lain.

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:“Bukankah aku telah memberitahu kamu tentang ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, suka mengumpul harta tetapi tidak suka membelanjakannya untuk kebaikan”.

1.    Keras kepala (degil) adalah sifat orang yang tidak mahu menerima kebenaran. Begitu juga orang yang tamak pada harta dan tidak suka membelanjakan harta untuk kebaikan kerana sombong, mereka ini tergolong sebagai ahli neraka.
2.     Harta merupakan amanah Allah kepada menusia oleh itu ia hendaklah dibelanjakan untuk diri, keluarga dan orang-orang yang di bawah tanggungan serta memberi bantuan kepada orang yang memerlukannya dengan cara yang diredhai oleh Allah.
3.    Islam amat melarang umatnya bersifat dengan sifat-sifat yang tercela, seperti sombong, takbur, riak, keras kepala, suka tamak dan sebagainya kerana semua sifat-sifat ini boleh menyeret seseorang itu ke dalam neraka.

Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru", "Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?".
 Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa keutamaan kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/ Hal. 140)

Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
 
 









Dalam bergaul di tengah-tengah masyarakat, kita tidak boleh memiliki sifat ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah. Semua sifat itu akan merugikan diri kita sendiri.

Nah, mari kita pelajari pengertian serta bahaya ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah berikut ini........................
 






ANANIAH

Kata ananiah berasal dari bahasa Arab ana yang berarti saya atau aku, kemudian mendapat tambahan kata iyah. Ananiah berarti ’keakuan’. Sifat ananiah biasa disebut egois, yaitu sikap hidup yang terlalu mementingkan diri sendiri bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Egois merupakan sifat tercela yang dibenci oleh Allah swt. dan manusia karena cenderung berbuat sesuatu yang dapat merusak tatanan pergaulan kehidupan bermasyarakat. Orang yang egois biasanya membangga-banggakan diri sendiri, mengganggap orang lain hina dan rendah. Padahal Allah swt. dengan tegas tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Firman Allah swt :

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An Nisa : 36 )

Contoh Ananiah; suka membanggakan diri sendiri, merasa diri paling benar, menganggap orang lain salah.

Menghindari Prilaku Ananiah
Untuk dapat menghindari perilaku ananiah bukanlah suatu hal yang mudah karena setiap manusia pasti memiliki sikap egoistis.
Hal-hal yang harus dilakukan agar terhindar dari perilaku ananiah sebagai berikut :
a.     Menyadari bahwa perbuatan ananiah dapat merugikan diri sendiri ataupun
orang lain.
b.    Menyadari bahwa perilaku ananiah apabila dibiarkan akan mengarah pada
sikap takabur yang dibenci Allah swt
c.     Menghindari bahwa manusia diciptakan sama dan mempunyai hak yang
sama.
d. Membiasakan diri untuk bersedekah dan beramal saleh
e. Menekan hawa nafsu dan memupuk sikap tenggang rasa.

Akibat buruk dari sifat ananiah atau egois antara lain :
a.     jauh dari pertolongan dan rahmat Allah, sebab orang yang egois tidak suka
menolong orang lain.
b.Menumbuh suburkan sifat rakus, tamak, dan sombong.
c.Menimbulkan kebencian dan permusuhan , sehingga merugikan diri sendiri.



GADAB

Gadab (marah) secara bahasa artinya keras, kasar, dan padat. Orang yang marah (pemarah) disebut gadib. Gadab merupakan antonim (lawan kata) dari rida dan hilm (murah hati) . Secara istilah, gadab berarti sikap seseorang yang mudah marah karena tidak senang terhadap perlakuan atau perbuatan orang lain.
 Amarah selalu mendorong manusia bertingkah laku buruk atau jahat. Seorang pemarah tergolong lemah imannya karena berpandangan picik dan tidak
dapat mengendalikan hawa nafsunya. Sebaliknya, jika seorang berpandangan luas dan dapatmengendalikan hawa nafsunya, maka ia akan bersikap arif atau bijaksana dalam menyelesaikan setiap masalah.
Orang mukmin yang baik selalu bersedia memaafkan kesalahan saudaranya, baik yang diminta ataupun tidak,karena hanya mengharapkan keridaan Allah SWT.



Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Contoh Ghadab; marah tanpa sebab, mudah tersinggung, tidak bisa mengendalikan diri.

Menghindari Perilaku Gadab
Adapun untuk menghindari perilaku gadab diantaranya:
a. Senantiasa membaca istigfar sambil menarik napas panjang.
b. Meninggalkan factor-faktor yang menyebabkan timbulnya marah.
c. Menyadari bahwa perilaku amarah sangat dibenci Allah swt. dan manusia
d. Berusaha belajar, lapang dada, dan mudah memaafkan orang lain.

 Akibat buruk sifat ghadab atau pemarah antara lain :
a. Dibenci Allah, Rasul-Nya, dan manusia.
b. Dapat merusak iman seseorang.
c. Menimbulkan dendam dan sakit hati.
d..Menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan, sehingga merusak
    persahabatan dan persaudaraan.

Rasulullah Saw bersabda :
Sesungguhnya murka dan marah itu dapat merusak iman sebagaimana juga dapat
merusak madu;
Cukuplah terhinanya murka dan marah sebagai pelajaran bagimu, yaitu engkau berfikir dan merenung tentang perbuatan seseorang di saat ia murka dan marah.
 HASAD

Hasad (dengki) secara bahasa berarti menaruh perasaan benci, tidak suka karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Secara istilah ialah usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain supaya tidak senang terhadap orang yang memperoleh keberuntungan atau karunia dari Allah swt.
Hasad biasanya timbul karena adanya permusuhan dan atau persaingan untuk saling menjatuhkan. Hasad merupakan penyakit rohani yang sangat berbahaya, karena harus dijauhi. Apabila dibiarkan ,akan dapat merusak dan menghilangkan
semua amal kebaikan seseorang.
Rasulullah saw. bersabda :
Artinya : “jauhkanlah dirimu dari sifat hasad karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan , ibarat api yang membakar kayu.” (HR. Abu Daud )
Contoh Hasad; mencemarkan nama baik orang lain, menjelek-jelekan orang lain karena iri, dan suka memusuhi orang lain.

Cara menghindari perilaku hasad antara lain :
a. Berusaha untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah swt.
b. Menyadari bahwa perilaku hasad sangat berbahaya dan harus dijauhi
c. Menyadari bahwa perilaku hasad dapat menghapus segala kebaikan yang
    dilakukan

Apabila masih suka menghasad.
d. Berpikir positif atas segala kejadian yang menimpa kita.
e. Tetap percaya diri dan optimis dengan kekurangan yang kita miliki.

Di dalam Al-Quran dikisahkan:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurutyangsebenarnya, ketika keduanya memper-sembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
Qabil berkata : “Aku pasti membunuhmu!”
Berkata Habi l: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang             
yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
GIBAH

Secara bahasa, gibah (menggunjing) ialah membicarakan keburukan (keaiban) orang lain. Secara istilah berarti membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya, baik jasmani, agama, kekayaan, akhlaq ataupun bentuk lahiriyahnya.
Gibah tidak terbatas melalui lisan saja, namun bias terjadi dengan tulisan atau gerakan tubuh. Apabila hal ini berhubungan dengan agama seseorang ia akan mengatakan bahwa ia pembohong, fasik ,munafik dan lain-lain.

 

Allah swt melarang keras perilaku gibah tersebut dan menyeru untuk menjauhinya, karena gibah digambarkan dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikan .

 

firman Allah swt:


Artinya : “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya..”( QS. Al Hujurat : 12 )
Contoh Gibah; mengumpat dan suka membeberkan kesalahan orang lain

Cara menghindari dari perilaku tercela antara lain :
a.     Selalu mengingat bahwa perbuatan gibah ialah penyebab kemarahan dan
 kemurkaan Allah swt.
b.    Selalu mengingat bahwasanya timbangan kebaikan gibah akan pindah
kepada orang yang digunjingkannya.
c.     Hendaknya orang yang melakukan gibah mengingat terlebih dahulu aib
dirinya sendiri dan segera berusaha memperbaikinya.
d. Menjauhi faktor-faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gibah
e. Senantiasa mengingatkan orang-orang yang melakukan gibah

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya. "Artinya : Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (HR Ahmad) "Wahyu Pamungkas"-Dibawah Naungan Al-Quran.
NAMIMAH

Secara bahasa, namimah berarti mengadu domba. Secara istilah, namimah berarti mengadu domba atau menyabar fitnah antara seseorang dengan orang lain dengan tujuan agar saling bermusuhan. Namimah termasuk perbuatan tercela yang harus kita hindari dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana larangan Allah swt. dalam Al Qur’an :

Artinya : ‘ Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi gina, yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang aku kasar selain dari itu yang terkenal kejahatannya.: (QS> Al Qalam 10 – 14 )
Contoh Namimah; bermuka dua, suka mengadu domba orang lain.
Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11)
Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari)
Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed).
Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.
Oleh: Syaikh Abbas al-Qummi Saudaraku, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak marah dan murka. Ukirlah jiwa dan dirimu dengan hiasan kesabaran dan ketabahan. Ketahuilah sesungguhnya marah dan murka itu merupakan kunci segala keburukan dan bisa jadi bahwa puncak kemarahan itu akan mengakibatkan kepada kematian secara tiba-tiba


Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah,)


Ada pula prilaku hasad yang dibolehkan, karena berdampak positif, yang dalam istilah lainnya disebut dengan al-ghibtah.

Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu (hasad kepada) orang-orang yang diberi kemampuan (membaca) al-Quran oleh Allah, lalu dia menegakkan (melaksanakan membaca) al-Quran baik diwaktu siang ataupun malam dan (hasad kepada) orang-orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia infakkan baik diwaktu malam ataupun diwaktu siang“. (HR Muslim).

Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.
Kesimpulan & Hikmah

Ø  Kesimpulan :
·   Perilaku tercela adalah Ananiah, Ghibah, Gadab, Hasad, dan Namimah.
·   Ananiah adalah sifat yang menilai sesuatu berdasarkan dirinya sendiri sehingga tidak memedulikan kepentingan orang lain. Ananiah sering disebut egois.
·    Gadab merupaka sifat tercela yang berarti marah. Marah adalah perasaan sangat tidak senang.
·    Hasad berarti menaruh perasaan marah atau benci karena iri terhadap keberuntungan orang lain. Hasad juga sering disebur iri hati atau dengki.
·     Gibah adalah membicarakan seseorang yang tdak ada kenyataanya dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya serta menjeek-jelekannya.
·    Namimah sering diartikan fitnah. Fitnah adalah perkataan buhong atau tanpa dasar dengan maksud menjelekkan orang-orang lain. 

Ø   Hikmah :
·  Kita dapat menghindari sifat-sifat tercela dalam kehidupan. Karena sadar  itu semua dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
·       Bergaul di tengah masyarakat dengan saling sayang-menyayangi.
·      Hidup bahagia tenang dan damai  karena tidak ada rasa benci dan resah
terhadap siapapun.
·       Senantiasa sabar walaupun ada berbagai masalah.
·        Terbebaskan dari permusuhan dan pertengkaran terhadap sesama.
·        Berusaha mengoreksi kesalahan sendiri.
·        Selalu mengingat Allah sehingga Menambah iman dan taqwa pada Allah

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More